Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4
beranda      kontak      link

Mengenal Lebih Jauh Tentang Pemanasan Global
Dinas Lingkungan Hidup Kab.Buleleng - 10 Apr 2008

Pendahuluan

Tulisan halaman ini dibuat berdasarkan ikhtisar pendek dari laporan tahun 2001
yang dibuat oleh Kelompok Diskusi Antar-negara Mengenai Perubahan Iklim dan
laporan tahun 2001 dari Badan Riset Nasional mengenai Pengetahuan mengenai
Perubahan Iklim: Sebuah Analisis tentang Beberapa Pertanyaan Kunci, juga
sumber-sumber data dari NCDC sendiri. Tulisan ini dibuat oleh David Easterling
dan Tom Karl, dari Pusat Data Iklim Nasional, Asheville, N.C. 28801.

Salah satu topik yang paling hangat diperdebatkan di dunia adalah masalah
perubahan iklim, dan pusat-pusat data dari Layanan Satelit, Data dan Informasi
Lingkungan Nasional (National Environmental Satellite, Data, and Information
Service – NESDIS) merupakan pusat untuk menjawab beberapa pertanyaan yang paling
mendesak yang masih saja belum bisa dijelaskan mengenai perubahan cuaca. Pusat
Data Iklim Nasional memiliki catatan-catatan pendukung yang dapat secara tepat
menjabarkan sifat-sifat alami fluktuasi iklim dalam jangka waktu hingga satu
abad lamanya. Berbagai jenis variasi data yang disumbangkan pada NCDC berasal
dari: Kapal-kapal, pelampung, stasiun cuaca, balon cuaca, satelit, dan pesawat
udara. Pusat Data Oseanografis Nasional (National Oceanographic Data Center)
memiliki data bawah laut yang dapat mengungkapkan bagaimana cara panas
didistribusikan dan diredistribusikan kembali di sekeliling planet ini.

Dengan mengetahui bagaimana perubahan yang tengah dialami dan telah dialami oleh
sistem ini di masa lalu, sangat penting untuk dapat memahami bagaimana perubahan
yang akan dialami di masa mendatang. Dan, untuk mendapatkan informasi mengenai
iklim yang berlangsung selama ratusan hingga ribuan tahun, program
paleoklimatologi, yang juga ada di Pusat Data Iklim Nasional, dapat membantu
untuk menghadirkan sudut pandang dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Secara internasional, Kelompok Diskusi Antar-negara Mengenai Perubahan Iklim
(Intergovernmental Panel on Climate Change – IPCC), yang berada di bawah naungan
PBB, Organisasi Meterologi Dunia (World Meteorological Organization – WMO), dan
Program Lingkungan PBB (United Nations Environment Program – UNEP), adalah badan
paling tua dan paling memiliki otoritas untuk menyediakan nasihat-nasihat ilmiah
pada para pembuat kebijakan secara global. IPCC mengadakan pertemuan lengkap
pada tahun 1990, 1995, dan 2001. Mereka membahas isu-isu seperti meningkatnya
gas yang dihasilkan oleh efek rumah kaca, bukti-bukti, penyebab, dan prediksi
mengenai perubahan iklim, akibat dari perubahan iklim, dan pilihan-pilihan
kebijakan.

Di bawah ini terdapat sejumlah pertanyaan yang biasa diajukan pada para peneliti
iklim, dan jawaban-jawaban pendek (berdasarkan laporan dari IPCC dan riset yang
lainnya) dalam bahasa awam yang mudah dipahami. Daftar ini akan diperbarui
secara periodik, bila ada bukti-bukti ilmiah baru yang ditemukan.

Apakah yang dimaksud dengan efek rumah kaca, dan apakah
efek rumah kaca dapat mempengaruhi iklim kita?

Efek rumah kaca adalah suatu hal yang kebenarannya tidak
diragukan lagi dan efek ini membantu mengatur suhu di planet kita. Efek ini
penting bagi kehidupan di Bumi dan merupakan salah satu proses alami yang
terjadi di Bumi. Efek rumah kaca merupakan hasil dari penyerapan energi oleh
gas-gas tertentu yang terdapat di atmosfer (disebut gas rumah kaca karena
gas-gas ini secara efektif ‘menangkap’ panas yang terdapat di atmosfer bagian
bawah) dan meradiasikan kembali sebagian dari panas tersebut ke bawah.

Uap air adalah unsur terbanyak yang terdapat dalam gas rumah kaca, diikuti oleh
karbon dioksida dan gas-gas lainnya. Tanpa adanya efek rumah kaca yang alami,
suhu di permukaan bumi akan berada pada angka no derajat F (-18˚C) bukan seperti
suhu saat ini yaitu 57˚F (14˚C). Jadi, kekhawatiran bukan terletak pada fakta
tentang adanya efek rumah kaca, namun apakah aktivitas manusia menyebabkan
terjadinya peningkatan efek rumah kaca ini.

Apakah jumlah gas yang dihasilkan efek rumah kaca terus
meningkat jumlahnya?

Aktivitas manusia telah meningkatkan konsentrasi gas rumah
kaca dalam atmosfer (sebagian besar berupa karbon dioksida yang berasal dari
pembakaran batu bara, minyak, dan gas; ditambah gas-gas lainnya). Tidak ada
debat ilmiah mengenai hal ini. Tingkat karbon dioksida sebelum masa industri (sebelum
Revolusi Industri dimulai) adalam sekitar 280 ppmv, dan tingkat karbon dioksida
saat ini adalam sekitar 370 ppmv. Konsentrasi CO2 dalam atmosfer kita saat ini,
belum pernah meningkat selama 420.000 tahun, dan kemungkinan besar tidak akan
berubah dalam 20 juta tahun terakhir. Berdasarkan laporan khusus dari IPCC
mengenai skenario emisi (Special Report on Emission Scenarios –SRES), di akhir
abad ke 21, kita bisa melihat adanya konsentrasi karbon dioksida sebesar 490 –
1260 ppm (75 – 350% di atas angka konsentrasi di masa pra industri.

Apakah Iklim menjadi semakin panas?

Ya. Temperatur permukaan secara global
meningkat sebesar kurang lebih 0.6°C (kurang atau lebih 0.2°C) sejak akhir abad
19, dan sekitar 0.4°F (0.2 hingga 0.3°C) sepanjang 25 tahun terakhir (periode
ini memiliki data yang paling akurat). Pemananasan bukanlah sesuatu yang seragam
secara global. Beberapa wilayah (termasuk sebagian dari Amerika Serikat bagian
tenggara), pada kenyataannya, menjadi semakin dingin sepanjang satu abad
terakhir.
Peningkatan panas paling besar dialami oleh
Amerika Utara dan Eurasia di antara 40 dan 70°LU. Pemanasan, yang dibantu dengan
adanya catatan El Niño sepanjang tahun 1997-1998, dan terus meningkat hingga
saat ini, dimana tahun 2001 menjadi tahun terpanas kedua setelah tahun 1998.

Trend secara linear dapat sangat bervariasi tergantung pada periode saat
penghitungan. Trend suhu pada atmosfer bagian bawah (di antara 2.500 dan 26.000
kaki) dari tahun 1979 hingga saat ini, merupakan sebuah periode dimana terdapata
unit data dari Microwave Satellite, sangatlah kecil dan mungkin tidak
representatif untuk mewakili tren dengan masa yang lebih panjang dan trend yang
lebih dekat dengan permukaan. Lebih jauh lagi ada perbedaan kecil yang belum
dapat di diperbaiki du abtara radiosonde dan observasi satelit mengenai
temperatur di troposfer, meskipun kedua sumber data tersebut menunjukkan sedikit
adanya tred pemanasan.

Bila kita melakukan kalkulasi terhadap tren berdasarkan data radiosonde yang
mulai dicatat sejak tahun 1950an, terlihat pemanasan yang sedikit lebih tinggi
dalam catatannya karena adanya peningkatan di tahun 1970an. Ada alasan-alasan
fisik dan statistik (misalnya, masa pencatatan yang terlalu pendek, perbedaan
efek sementara terhadap aktivitas vulkanis dan El Niño, serta efek-efek lapisan
perbatasan) sehingga kita bisa melihat perbedaan di antara tren yang terjadi
baru-baru ini pada suhu di lapisan troposfer bagian permukaan dan di bagian
bawah, namun alasan-alasan pasti tentang terjadinya perbedaan ini masih terus
diselidiki (lihat laporan Badan Riset Nasional “Merekonsiliasi Hasil Observasi
terhadap Perubahan Iklim secara Global”).

Sebuah efek rumah kaca yang diperkuat diperkirakan menyebabkan terjadinya
pendinginan di bagian atmosfer yang lebih tinggi karena adanya peningkatan efek
“selimut” di bagian bawah atmosfer menyimpan panas yang lebih banyak,
menyebabkan lebih sedikit panas yang dapat mencapai atmosfer bagian atas.
Pendinginan di stratosfer bagian bawah (sekitar 49.000 – 79.500 kaki) sejak
tahun 1979 ditunjukkan oleh data dari Unit Microwave Sounding dan data
radiosonde, namun angka lebih besar ditunjukkan oleh data radiosonde.

Suhu permukaan dan troposfer yang relatif lebih dingin, dan suhu stratosfer
bagian bawah yang relatif lebih hangat, diamati pada tahun 1992 dan 1993,
menyusul meletusnya Gunung Pinatubo pada tahun 1991. Pemanasan muncul kembali
pada tahun 1994. Sebuah pemanasan secara global yang dramatis, setidaknya
sebagian dihubungkan dengan adanya catatan El Niño, terjadi pada tahun 1998.
Episode pemanasan ini direfleksikan dari permukaan hingga di bagian atas
troposfer.

Ada kecenderungan secara umum, namun bukan kecenderungan global, terhadap
pengurangan diurnal temperature range (DTR), (perbedaan tinggi rendahnya
temperatur harian) di sekitar 50% dari wilayah daratan secara global sejak
pertengahan abad 20. Liputan awan semakin meningkat di banyak wilayah sementara
DTR semakin berkurang. Tren positif secara keseluruhan untuk suhu harian
maksimum sepanjang masa pengamatan (1950-1993) adalah 0.1°C/dekade, sementara
tren untuk suhu minimum harian adalah 0.2°C/dekade. Hasil ini merupakan gambaran
tren negatif dalam DTR yaitu -0.1°C/dekade.

Indikator tidak langsung atas terjadinya pemanasan seperti temperatur yang
semakin panas, lapisan es, dan data berkurangnya sungai es (glacier), secara
substansial mendukung data lain yang lebih langsung mengenai suhu yang semakin
memanas belakangan ini. Bukti-bukti seperti perubahan panjang sungai es, sangat
berguna karena tidak hanya memberikan dukungan kualitatif terhadap data
meteorologi yang sudah ada, namun sungai es terkadang berada di tempat-tempat
yang terlalu terpencil untuk dapat mendukung stasiun-stasiun meteorologi,
catatan makin bertambah atau berkurangnya sungai es seringkali jauh lebih
panjang daripada apa yang tercatat di stasiun cuaca, dan sungai es biasanya
berada pada ketinggian yang lebih jauh lebih tinggi sehingga stasiun cuaca dapat
memberikan kita lebih banyak data mengenai perubahan di tempat-tempat yang lebih
tinggi di atmosfer.

Pengukuran dalam skala besar terhadap lautan es hanya dapat dilakukan pada era
satelit, namun dengan melihat pada angka-angka yang terdapat pada perkiraan
berbagai satelit yang berbeda, kita dapat melihat bahwa wilayah Samudera Arktik
mengalami pengurangan antara tahun 1973 dan 1996 dengan kecepatan -2.8 +/-
0.3%/dekade. Meskipun hal ini kelihatannya berhubungan dengan peningkatan suhu
secara umum pada periode yang sama, ada banyak siklus-kuasi dinamika atmosfer
(misalnya Arctic Oscillation) yang juga dapat mempengaruhi ketebalan lautan es
di Arktik. Lautan es di Antartika menunjukkan sedikit sekali tren pada periode
yang sama, atau bahkan mengalami sedikit peningkatan sejak tahun 1979. Meskipun
catatan mengenai lautan es di Antartika di tahun-tahun yang lampau sangat sulit
untuk didapatkan karena tidak adanya pengamatan secara langsung di belahan bumi
ini.

Apakah El Niño berhubungan dengan
pemanasan global?

El Niño bukan disebabkan oleh pemanasan
global. Bukti-bukti yang didapatkan dari berbagai sumber (termasuk penelitian
arkeologi) memperlihatkan bahwa El Niño sudah ada selama beratus-ratus tahun,
bahkan ada indikator yang menyebutkan kemungkinan keberadaannya selama jutaan
tahun.

Namun diperkirakan bahwa suhu permukaan laut yang semakin hangat dapat
memperkuat fenomena El Niño, dan benar juga bahwa El Niño terjadi lebih sering
dan lebih dasyat dalam beberapa dekade belakangan ini. Hasil percobaan model
iklim yang merupakan simulasi dari abad 21 dengan peningkatan gas-gas rumah kaca
menunjukkan bahwa pola suhu permukaan laut yang mirip seperti El Niño di
Samudera Pasifik bagian tropis kemungkinan akan lebih kuat.

Apakah terjadi perubahan pada siklus hidrologis (penguapan
dan curah hujan)?

Secara umum, curah di daratan di seluruh dunia meningkat
sekitar ~2% sejak tahun 1900, namun demikian, perubahan curah hujan terjadi
secara bervariasi selama seabad belakangan ini. Catatan instrumental menunjukkan
bahwa ada peningkatan secara umum pada curah hujan sebesar sekitar 0.5-1.0%/dekade
pada daratan di wilayah utara dengan ketinggian menengah ke atas, kecuali
sebagian Rusia bagian timur. Namun demikian, ada penurunan sekitar -0.3%/dekade
pada curah hujan yang terjadi sepanjang abad 20 di wilayah daratan yang berada
pada ketinggian sub-tropis, meskipun tren ini semakin melemah pada dekade-dekade
belakangan ini.

Karena adanya kesulitan dalam mengukur curah hujan, penting sekali untuk
memberikan dukungan data terhadap pengamatan ini dengan menganalisis variabel
lain yang berhubungan. Perubahan yang dapat diukur pada curah hujan akan secara
konsisten sama dengan perubahan pada aliran arus, tinggi danau, dan kelembaban
tanah (dimana data bisa dilihat dan telah dianalisis).

Luas lapisan es di Wilayah Kutub Utara yang diukur setiap tahunnya secara
konsisten berada di bawah rata-rata sejak tahun 1987, dan mengalami penurunan
sekitar 10% sejak tahun 1966. Hal ini sebagian besar terjadi karena berkurangnya
hujan salju pada musim semi dan musim panas di wilayah Eurasia dan Amerika Utara
sejak pertengahan 1980an. Namun demikian, lapisan salju di musim hujan dan musim
gugur menunjukkan tidak adanya tren yang signifikan di wilayah kutub utara pada
periode yang sama.

Data satelit yang semakin bagus menunjukkan bahwa tren umum peningkatan jumlah
liputan awan bak di daratan maupun lautan sejak awal 1980an, mengalami penurunan
pada awal 1990an, dan jumlah total liputan awan di daratan dan lautan saat ini
kelihatannya semakin berkurang. Namun demikian, ada beberapa penelitian yang
menunjukkan ketebalan awan secara regional, mungkin terutama pada awan-awan
hujan yang tebal, mengalami peningkatan pada abad 20.

Apakah terjadi perubahan pada sirkulasi
atmosfer/lautan?

Sebuah perubahan yang agak tiba-tiba pada
perilaku El Niño – South Oscillation terjadi pada sekitar tahun 1976/77 dan
perilaku ini terus berlangsung hingga sekarang. El Niño lebih sering terjadi dan
lebih dasyat daripada La Niña yang lebih dingin. Perilaku yang sangat di luar
kebiasaan terjadi dalam 120 tahun terakhir (periode dimana terdapat catatan
instrumental). Perubahan pada curah hujan di wilayah Pasifik tropis berhubungan
dengan perubahan pada El Niño – South Oscillation, yang juga mempengaruhi pola
dan kekuatan temperatur di permukaan. Namun demikian, tidak jelas apakan
perubahan yang jelas sekali terlihat pada siklus ENSO ini disebabkan oleh
pemanasan secara global.

Apakah terjadi perubahan iklim yang lebih ekstrem dan
lebih bervariasi?

Dalam skala global hanya ada sedikit bukti adanya tren
panjang dalam ekstrimitas dan variabilitas iklim. Ini mungkin menunjukkan adanya
ketidak cukupan data dan analisis. Namun demikian dalam skala regional, ada
bukti yang jelas adanya perubahan pada variabilitas dan ekstrimitas. Di
wilayah-wilayah dimana terjadi kekeringan atau musim penghujan yang
berkepanjangan biasanya diikuti adanya El Niño, kekeringan atau kebasahan ini
biasanya terasa lebih intense pada tahun-tahun belakangan. Di luar wilayah ini,
hanya sedikit bukti yang tersedia mengenai perubahan pada frekuensi atau
intensitas kekeringan.

Di beberapa wilayah dimana secara keseluruhan curah hujan mengalami peningkatan
(misalnya, di wilayah utara dengan ketinggian menengah hingga tinggi), ada bukti
mengenai peningkatan terjadinya curah hujan yang lebih lebat dan lebih ekstrim.
Bahwa di wilayah-wilayah seperti Asia selatan, ditemukan peningkatan jumlah
curah hujan yang ekstrim meskipun secara total curah hujan tetap konstan atau
bahkan terjadi penurunan. Hal ini berhubungan dengan penurunan pada frekuensi
curah hujan di wilayah ini.

Banyak penelitian individual di berbagai wilayah yang menunjukkan bahwa
aktivitas siklon ekstra tropis kelihatannya mengalami peningkatan sepangjang
pertengahan abad 20 di kutub utara, namun mengalami penurunan di wilayah kutub
selatan. Tidak jelas apakah tren ini merupakan fluktuasi multi-dekade atau
bagian dari tren yang lebih panjang lagi.

Menurut data yang terpercaya, frekuensi dan intensitas badai tropis tidak
menunjukkan adanya tren jangka panjang yang signifikan di basin manapun.
Kelihatannya sedang terjadi fluktuasi dekade-interdekade, namun tidak ada data
yang secara konsklusif menunjukkan adanya komponen termin yang lebih panjang.
Ekstrimitas suhu secara global tidak menunjukkan adanya tren yang signifikan
dalam variabilitas dari tahun ke tahun, namun beberapa penelitian menunjukkan
adanya penurunan signifikan pada variabilitas dalam satu tahun. Ada tren yang
lebih jelas menurunnya suhu rendah minimum pada beberapa wilayah yang berjauhan
dalam beberapa dekade belakangan. Perubahan signifikan tentang suhu tinggi
ekstrim yang tersebar di beberapa wilayah yang berjauhan tidak diamati. Ada
beberapa indikasi adanya penurunan variabilitas suhu harian di beberapa dekade
belakangan.(http://www.e-dukasi.net)


Seberapa pentingnya perubahan-perubahan ini dalam konteks
jangka panjang?


Data paleoklimatik sangat penting untuk membuat kita dapat
memperluas pengetahuan mengenai variabilitas iklim di luar apa yang telah diukur
oleh peralatan modern. Banyak fenomena alamiah yang sangat bergantung pada iklim
(seperti misalnya tingkat pertumbuhan sebuah pohon), dan sebagainya, menyediakan
‘catatan’ alamiah mengenai informasi iklim. Beberapa data paleoklimatik dapat
ditemukan pada berbagai sumber seperti lingkaran pada pohon, inti es,
batu-batuan, sedimentasi pada danau (termasuk fosil serangga dan data pollen),
speleothems (skalaktit dan sebagainya), dan sedimentasi laut.

Beberapa data ini, termasuk inti es dan lingkaran pada pohon memberikan juga
sebuah catatan kronologis mengenai bagaimana mereka terbentuk secara alami, dan
sehingga rekonstruksi iklim yang beresolusi tinggi dapat dilakukan berdasarkan
catatan-catatan ini. Namun demikian, tidak ada ‘jaringan’ yang komprehensif pada
data paleoklimatik seperti yang ada pada data liputan instrumental, sehingga
rekonstruksi iklim secara global seringkali sulit untuk didapatkan. Namun,
menggabungkan catatan-catatan berbagai tipe paleoklimatik yang berbeda bisa
membuat kita mengembangkan sebuah gambaran yang hampir global mengenai perubahan
iklim di masa lalu.

Untuk suhu musim panas di Kutub Utara, beberapa dekade terakhir kelihatannya
adalah suhu terhangat sejak setidaknya 1000M, dan pemanasan sejak akhir abad 19
belum pernah terjadi dalam 1000 tahun terakhir. Data yang lebih tua tidak cukup
untuk memberikan estimasi suhu wilayah yang akurat. Data pada inti es
menunjukkan bahwa pada abad 20 suhu cukup hangat di berbagai belahan dunia,
namun juga pentingnya pemanasan berbeda secara geografis, bila dilihat dalam
konteks variasi iklim pada milenium terakhir.

Perubahan yang besar dan cepat pada iklim mengubah sirkulasi atmosfer dan lautan
serta suhu, dan juga siklus hidrologis, terjadi sepanjang jaman es terakhir dan
sepanjang masa transisi menuju periode Holocene (yang terjadi sekitar 10.000
tahun yang lalu). Berdasarkan bukti tidak lengkap yang ada, perubahan
diproyeksikan akan berubah dari 3 hingga 7°F (1,5 - 4°C) sepanjang abad yang
akan datang akan menjadi sesuatu yang luar biasa dibandingkan dengan catatan
terbaik yang ada dari beberapa ribu tahun yang lalu.


Apakah terjadi peningkatan pada tinggi
permukaan laut?


Secara global tinggi permukaan laut mengalami
peningkatan sebesar 1 hingga 2 mm/tahun sepanjang 100 tahun terakhir, yang
secara signifikan merupakan angka yang lebih besar dibandingkan dengan angka
rata-rata sepanjang beberapa ribu tahun belakangan. Proyeksi peningkatan dari
tahun 1990-2100 adalah sebesar 0,09-0,88 meter, bergantung pada skenario rumah
kaca mana yang digunakan dan berbagai ketidak pastian secara fisik yang
menyebabkan terjadinya peningkatan tinggi permukaan laut dari berbagai sumber
air baik yang beku maupun tidak beku.


Apakah perubahan yang telah diamati dapat
dijelaskan menggunakan dengan faktor variabilitas alami?


Karena sistem iklim kita secara fundamental didorong oleh
adanya energi dari matahari, maka bisa dipastikan bahwa bila energi matahari
mengalami perubahan, maka iklim juga akan mengalami perubahan. Sejak adanya
pengukuran melalu media luar angkasa pada akhir tahun 1970an, energi yang keluar
dari matahari memang menunjukkan adanya variasi. Kelihatan ini merupakan
penegasan dari dugaan sebelumnya mengenai adanya siklus 11 (dan 22) tahun
radiasi.

Namun, dengan hanya 20 tahun pengukuran yang akurat, sulit untuk menyimpulkan
sebuah tren. Akan tetapi, dari catatan pendek yang kita miliki sejauh ini, tren
iradiasi matahari diperkirakan sekitar ~0,09 W/m2 dibandingkan dengan 0.4 W/m2
dari gas rumah kaca yang tercampur dengan baik. Ada banyak indikasi bahwa
matahari juga memiliki variasi dengan periode lebih panjang yang berpotensi
menyebabkan tingkat yang lebih tinggi dalam skala abad. Namun, ada juga ketidak
pastian yang cukup besar dalam memperkirakan iradiasi matahari di luar apa yang
dapat diukur oleh satelit, dan kontribusi dari iradiasi matahari secara langsung
lebih kecil daripada komponen dari efek rumah kaca. Kita masih harus membentuk
pengertian kita mengenai mekanisme alami yang menjadi kunci dari mekanisme iklim,
termasuk juga perubahan iradiasi matahari, untuk mengurangi ketidakpastian dalam
proyeksi kita dalam perubahan iklim di masa datang.

Sebagai tambahan selain perubahan energi dari matahari sendiri, posisi bumi dan
orientasi relatif terhadap matahari (orbit kita) juga sedikit bervariasi,
sehingga membawa kita lebih dekat atau lebih jauh dari matahari dengan siklus
yang dapat diduga (disebut siklus Milankovitch). Variasi dari siklus-siklus ini
dipercaya menjadi penyebab terjadinya jaman es di bumi. Yang paling penting
untuk terjadinya pembekuan (glasial) ada penerimaan radiasi di lintang utara
bagian atas.

Berkurangnya radiasi di bagian ini pada bulan-bulan musim panas menyebabkan
salju dan es tetap tertutup sepanjang tahun, sehingga pada akhirnya menyebabkan
timbulnya es yang permanen – atau batu es. Meskipun siklus Milankovitch
merupakan sesuatu yang sangat berharga sebagai suatu teori yang menjelaskan
terjadinya jaman es dan perubahan jangka panjang pada iklim, siklus ini hampir
tidak mungkin memiliki dampak yang lebih jauh pada siklus waktu sepanjang dekade
atau abad. Sepanjang beberapa abad, mungkin kita bisa mengamati efek dari
parameter orbital semacam ini, hamun untuk memprediksi perubahan iklim pada abad
21, perubahan ini akan jauh lebih tidak penting daripada kekuatan radiasi dari
gas yang berasal dari efek rumah kaca.


Apa yang akan terjadi di masa depan?

Karena adanya berbagai kompleksitas di atmosfer, alat yang
paling berguna untuk mengukur perubahan di masa depan adalah ‘model iklim.’ Ini
adalah model yang dibuat di komputer berdasarkan hitungan matematis yang
merupakan simulasi, dalam tiga dimensi, perilaku iklim, komponen serta
interaksinya. Model iklim juga terus menerus diperbaiki berdasarkan pemahaman
kita serta peningkatan kecanggihan alat komputer, meskipun secara definisi,
sebuah model komputer adalah suatu simplifikasi dan simulasi dari keadaan nyata,
yang artinya bahwa model tersebut merupakan kalkulasi secara kasar dari sistem
iklim nyata. Langkah pertama dalam membuat model proyeksi dari perubahan iklim
adalah dengan mula-mula melakukan simulasi tentang iklim saat ini dan
membandingkannya dengan pengamatan.

Bila model ini dianggap cukup baik untuk mewakili iklim modern, kemudian
beberapa parameter tertentu diubah, seperti konsentrasi gas rumah kaca, yang
akan membantu kita memahami bahwa iklim akan berubah sebagai respons dari
perubahan tersebut. Oleh karena itu, proyeksi perubahan iklim masa depan sangat
bergantung pada sebaik apa model iklim komputer tersebut mensimulasikan iklim
dan pada pemahaman kita mengenai mana fungsi-fungsi pendorong yang akan berubah
di masa datang.

Laporan Khusus IPCC mengenai Skenario Emisi menentukan jumlah gas rumah kaca
yang mungkin akan terbentuk (dan pendorong lainnya) berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan lain seperti pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi,
efisiensi energi dan sejumlah faktor lainnya. Laporan ini mengungkapkan sejumlah
skenario pendorong yang cakupannya cukup luas, dan akibatnya menghasilkan iklim
masa datang dengan berbagai variasi yang luas.

Berdasarkan tingkat pendorong yang ada dalam skenario terserbut, dan dengan
menghitung ketidakpastian yang terjadi dalam kinerja model iklim, IPCC
meramalkan peningkatan suhu secara global sebesar 1,4 -5,8°C dari tahun
1990-2100. Namun demikian, angka rata-rata secara global ini akan dikombinasikan
dengan berbagai response regional yang sangat bervariasi, seperti kemungkinan
apakah wilayah daratan akan lebih cepat memanas dibandingkan dengan suhu lautan,
terutama wilayah daratan yang berada di garis lintang utara bagian atas (dan
sebagian besar terjadi di musim dingin).

Curah hujan juga diramalkan akan mengalami peningkatan sepanjang abad 21,
terutama pada garis lintang utara bagian tengah, meskpun tren ini mungkin lebih
bervariasi di daerah tropis.

Lapisan dan lautan es juga diramalkan akan terus mengalami penurunan di wilayah
kutub utara, dan sungai es serta puncak-puncak gunung es diramalkan akan terus
menurun.(http://www.e-dukasi.net)


ARSIP BERITA
08 Jan 2010 » Strategi Penanganan Sampah Rumah Tangga
04 Jan 2010 » Pemanasan Global, Penyebabnya, Dan Dampaknya
23 Des 2009 » Gelar Penghijauan di Danau Buyan dan TNBB
17 Des 2009 » Lima Ribu Pohon Ditanam Di Desa Bebetin
26 Sep 2009 » Pandangan Umum WALHI Jakarta Terhadap RUU Pengelolaan Sampah
09 Jun 2009 » Buleleng Dibanjiri Penghargaan Tingkat Nasional
06 Jun 2009 » Kembali, Bupati Bagiada Terima Trofi Adipura
19 Des 2008 » Ribuan Pohon Ditanam Di Tambakan
06 Nov 2008 » Ribuan Pohon Ditanam Di Buyan